Minggu, 14 Oktober 2012

Merunut Kajian Masalah Pertanahan

Resensi oleh Mochammad Said
Resensi dimuat di Majalah GATRA No. 10 Tahun XVIII Edisi 12-18 Januari 2012.

Identitas Buku
Judul: Melacak Sejarah Pemikiran Agraria: Sumbangan Pemikiran Mazhab Bogor
Penulis: Ahmad Nashih Luthfi
Cetakan: September 2011 (cetakan ke dua)
Tebal: lii + 347 hlm
Penerbit: Pustaka Ifada (Yogyakarta) dan Sajogyo Institute (Bogor)
Penjualan: Nafi, 08978086162



Kasus-kasus konflik agraria di negeri ini masih terus terjadi dan belum menunjukkan sebuah titik penyelesaian. Dua kasus terbaru, yaitu di Mesuji dan Bima, setidaknya menguatkan hal itu. Konflik agraria ini disebabkan oleh ketidakmampuan negara melaksanakan tugas konstitusionalnya untuk memberikan keadilan agraria bagi rakyatnya. Bagaimana tidak. Kewajiban pemerintah untuk meredistribusikan lahan kepada kepada rakyat sesuai dengan UU Nomor 5 Tahun 1960 tentang Pokok-pokok Agraria (UUPA) tidak pernah dilaksanakan. Rakyat kecil yang seharusnya menjadi subyek dalam pengelolaan kekayaan alam negeri ini ternyata justru dimarjinalkan, karena pemerintah memberikan akses pengelolaan lahan kepada para pemodal besar.

Menyimak dua kasus konflik agraria di atas, menjadi penting bagi kita untuk memikirkan kembali kebijakan agraria pada saat ini. Kesalahan dalam tata kelola dan tata laksana kebijakan agraria negara pada saat ini sebenarnya telah dipikirkan, diperbincangkan, bahkan digagas solusinya oleh dua sosok ilmuwan-pemikir-pejuang agraria yang dikaji dalam buku ini: Profesor Sajogyo dan Dr. Gunawan Wiradi. Yang pertama adalah perintis dan pelopor studi sosiologi pedesaan Indonesia, sedangkan yang kedua adalah guru studi reformasi agraria.

Begitu banyak kajian tentang persoalan agraria sejak periode kolonial hingga sekarang dalam konteks pembentukan kebijakan agraria. Kajian itu meliputi riset ilmu sosial tentang struktur agraria dan sejarahnya, kemiskinan pedesaan dan agraria, reformasi agraria, hingga pembangunan pedesaan.

Pada masa kolonial, kajian agraria lebih banyak ditujukan untuk melegitimasi kebijakan penguasa Hindia Belanda pada waktu itu, sehingga metodologi dan hasilnya pun seringkali bias. Kalaupun hasilnya menunjukkan ketimpangan struktur agraria, rekomendasi yang dihasilkan tetaplah merepresentasikan kepentingan penguasa.

Walaupun demikian, ada beberapa pengecualian. Antara lain penelitian Sumitra Dingley (nama samaran dari Iwa Kusuma Sumantri), Tan Malaka, dan S.J. Rutgers, yang mau tak mau harus diakui bahwa kebanyakan dari mereka adalah para “sejarawan” yang berperspektif “Marxis-Komunis” (halaman 103).

Pada dekade awal kemerdekaan, kajian agraria semakin massif sejalan dengan upaya dekolonisasi sistem penguasaan sumber daya agraria dan berbagai gagasan pemba(ha)ruan (agraria). Kajian-kajian rintisan sosiologi dan pembangunan pedesaan telah dilakukan, dan sebagian besar menghasilkan beberapa kesimpulan: timpangnya penguasaan lahan antara mayoritas rakyat kecil, pemodal besar, dan negara. Ketimpangan itu berdampak kemiskinan struktural rakyat kecil di negerinya sendiri.

Prof. Sajogyo dan Dr. Gunawan Wiradi merupakan dua sosok pemikir yang berada dalam kelompok pemikir kritis agraria tersebut. Upaya-upaya pelembagaan gagasan “mazhab Bogor” mereka menunjukkan, keduanya secara konsisten berusaha melawan tradisi riset dan kebijakan agraria yang elitis. Keduanya berpendapat, para ilmuwan perlu memberikan perhatian pada problem struktural yang menyebabkan dan mendorong terjadinya kemiskinan pedesaan. Mereka juga menekankan pentingnya reformasi agraria untuk menghapus ketimpangan itu.

Sosok dua pemikir mazhab Bogor ini merefleksikan peran dan kapasitas ilmuwan yang ideal. Pertama, sebagai ilmuwan, mereka memiliki relevansi teoretis dan relevansi sosial, sehingga dekat dengan realitas sosial dan tidak elitis. Kedua, kegiatan ilmiah mereka tidak disetir oleh kekuatan kapital. Ketiga, mereka mampu mengorganisasi gagasan lewat riset, seminar, pertemuan ilmiah, dan penulisan buku, lalu mendiseminasikannya kepada khalayak sehingga dapat dikenal dan diterima publik.

Selain itu, dalam konteks kerja kesarjanaan, penting bagi kita untuk menekuni kembali problematika agraria Indonesia secara lebih mendalam dan menyeluruh. Warisan pemikiran terdahulu perlu dihimpun agar tidak muncul tuduhan bahwa sejarah kesarjanaan Indonesia tidak terakumulasi menjadi pengetahuan yang otoritatif. Dengan akumulasi pengetahuan yang otoritatif dan relevan secara teoretis dan sosial, kerja-kerja kesarjanaan ilmuwan Indonesia akan benar-benar terasa dan bermanfaat bagi transformasi kehidupan rakyat ke arah yang lebih baik.


----------------------------------------------------------------------------------
Komentar-komentar dalam buku:

Ahmad Nashih Luthfi’s Melacak Sejarah Pemikiran Agraria is an important and useful work. Based on a wide-ranging study of secondary sources,and also on interviews with senior agrarian scholars, the book makes two important contributions to Indonesian agrarian studies.

The first part of the book traces the various traditions of agrarian research from the colonial period to the present, in the context of shifting agrarian policies.In these chapters the author has summarized many important but little-known studies from Indonesia’s late-colonial and early independence period (1920s – 1970s).

The second part of the book explores the intellectual biographies of Professor Sajogyo and Dr. Gunawan Wiradi, as two exemplary leading figures in the emergence of the ‘Bogor school’ of critical agrarian studies. These two scholars, and others of the ‘Bogor school’, have consistently opposed the longstanding elitist tradition in agrarian research and policy, insisting on the need for attention to the structural problems which maintain and reinforce rural poverty, and arguing for agrarian reforms to correct the unequal agrarian structures left behind by colonialism and further distorted by developments in the neoliberal era.

In this way the author has made a truly original contribution to our understanding of Indonesian agrarian studies. This book will be essential background reading for young scholars, practitioners and activists interested in problems of agrarian transition and rural poverty in Indonesia.

Prof. Dr. Ben White
Professor of Rural Sociology
International Institute of Social Studies (ISS), The Hague

Buku ini membuka mata saya pada cara lain untuk berilmu, yang kini tidak biasa lagi. Biografi Sajogyo dan Gunawan Wiradi ini menghadapkan pembaca dengan dua ilmuwan yang menjadi besar tanpa mengorbankan kemanusiaannya. Lain dengan teknokrat yang sekarang ini, yang meneliti atas dasar pesanan dari atas, penelitian mereka berakar dalam rakyat. Ia bergerak dari keterlibatan pribadi dalam upaya utopis pembebasan. Sudah waktunya sejarah penelitian landreform dan kemiskinan mereka di Bogor tahun 1950-an sampai dengan 1970-an dibuka bagi publik besar. Siapa tahu, "Pemikiran Agraria" akan mengilhami pemuda-pemudi idealis yang ingin membangun karir seperti mereka di dunia penelitian.

Dr. Gerry van Klinken, peneliti senior di KITLV, Leiden, Belanda
Bagi saya, atau setidaknya kita semua yang sedang diwarisi tugas sejarah untuk mengembangkan pemikiran ini, konteks yang berubah tentunya menghadirkan tantangan yang berubah. Arus pemikiran yang kita hadapi sudah sedemikian sistematis mewakili suatu kepentingan untuk mengintegrasikan seluruh pelosok bumi dalam sistem pasar global. Sementara kita, jika tidak segera merapatkan barisan dengan cara belajar bertindak bersama tanpa lelah, untuk membangun sistem pemikiran yang teguh sebagai counter argument dari arus kepentingan ini, maka akan dengan cepat kalah langkah.

Pemikiran para guru kita membantu kita untuk secara tajam memahami social inequality di pedesaan. Tidak dengan mudah menerima desa dalam sebuah romantisme harmoni, tapi memahami sepenuhnya bahwa kekuatan kapitalisme juga bisa berasal dan mengakar dari desa. Pada masa ini, begitu dekat jarak antara pemikir dan pengambil kebijakan di lembaga-lembaga keuangan internasional- yang begitu dipercaya oleh Negara-, dengan kejadian dan peristiwa yang segera mewujud di pedesaan. Dalam hitungan hari, tiba-tiba masyarakat pedesaan yang sekarang ini hampir tak ada yang tak terjerat hutang, lalu dihadapkan pada keputusan untuk menyerahkan tanahnya pada perusahaan besar yang masuk ke desa dengan janji kesejahteraan. Dengan demikian, kerja kita tidak lagi sesederhana mengorganisir perlawanan atas masuknya modal besar di desa, dan menggedor gedung DPR dan Mahkamah Konstitusi untuk menghapus beragam regulasi yang menindas. Itu sangat penting dan perlu, dan tak mungkin ditinggalkan, tapi tak cukup.

Dari pemikiran para Begawan ini, kita sadar bahwa kita juga perlu menemukan cara untuk mengurai jerat hutang di pedesaan, membuka jalan demokratisasi hubungan-hubungan sosial pedesaan, mempelajari dan meneguhkan kekuatan rakyat dalam soal kelola wilayah, soal pengorganisasian lahan pertanian, kebun, hutan dan daerah perairan. Dan saat ini kita pun perlu sekaligus mempelajari dan menemukan cara semua itu dalam rangka penyelamatan satuan ekologis untuk keselamatan hidup bersama, sambil tak lupa memihak secara khusus pada kepentingan kaum rentan, seperti perempuan kepala keluarga, buruh, anak-anak dan orang tua.
Memang perjalanan masih panjang.
Mari, segera melangkah belajar bertindak bersama. Kita belajar dari buku ini, seperti kedua guru, akarkan diri pada semangat keberpihakan pada masyarakat miskin dan tertindas untuk mampu melahirkan pemikiran otoritatif yang melembaga pada pengembangan ilmu pengetahuan, kebijakan dan gerakan.
Selamat belajar dan berjuang.

Laksmi Adriani Savitri, Ph.D, postdoctoral di Amsterdam University
Bagi para Agrarista, yakni mereka yang menjadi pengusung agenda Reforma Agraria, buku ini wajib dipelajari, termasuk untuk mendapatkan inspirasi. Saya sendiri menikmatinya sebagai suatu pertemuan intelektual yang amat mengasyikan, terutama untuk memikirkan batas-batas dan cara bagaimana para guru yang berumah di lembaga akademis dapat berkiprah dalam mengungkap dan menganalisa kenyataan hidup rakyat pedesaan, menyuarakan kritik, dan menyampaikan gagasan perubahan yang layak untuk ditempuh.

Noer Fauzi Rachman, Ph.D
Direktur Sajogyo Institite dan Pengajar di IPB

Buku ini sebenarnya telah memberi pengetahuan luas tentang perkembangan pemikiran agraria di Indonesia di luar dua tokoh dari Institut Pertanian Bogor itu semata, namun sekaligus perkembangan pemikiran dalam sejarah ilmu pengetahuan di Indonesia.
Prof. Dr. Bambang Purwanto, Sejarah UGM
--------------------------------------------------------------------

Review lain buku ini ada di: 
1. Suatu PENGKHAYATAN PADA SAYOGO
2. Mazhab Bogor
3. Kajian Pertanahan
4. Membedah Agraria 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar