Senin, 15 Oktober 2012

Yang Tersisa: Ekstraksi Pertambangan Timah Bangka


Darmanto dan Ahmad Nashih Luthfi



Ringkasan Penelitian "Reklamasi dan Penguasaan Tanah Pasca Pertambangan Timah di Bangka"

Meluas dan intensifnya tambang timah—baik dengan ijin maupun tanpa ijin—di era desentralisasi menciptakan kerusakan tanah di provinsi Bangka Belitung. Untuk mengatasi kerusakannya, perusahaan tambang berijin memiliki kewajiban reklamasi. Terdapat beragam skema dan model reklamasi yang dilakukan—dengan melibatkan banyak aktor. Setiap skema dan model reklamasi memiliki legitimasi dan landasan aturan tersendiri yang tumpang tindih dan bertentangan. Selain reklamasi konvensional, wacana reklamasi berbasiskan masyarakat diajukan sebagai terobosan pengelolaan tanah pasca tambang. Wacana reklamasi berbasiskan masyarakat digulirkan untuk memberi peluang bagi masyarakat akses dan kontrol terhadap tanah pasca tambang. Pelaksanaan reklamasi selama ini serta diimplementasikannya wacana reklamasi berbasis masyarakat tidak mudah dilakukan, mengingat status dan pengelolaan tanah-tanah reklamasi pasca tambang timah, menunjukkan kondisi open access. Berbagai aktor mengambil manfaat dalam bentuk klaim, pematokan, pendudukan, dan pemanfaatan di atas tanah pasca tambang yang status pengelolaannya masih belum jelas. Era pasca deregulasi-desentralisasi mengarahkan pada satu kesimpulan sementara bahwa kondisi spasial-keagrariaan di Bangka mencerminkan apa yang disebut dengan Un-governable Space. Kondisi semacam ini tentu tidak boleh dibiarkan
 
Kata kunci:
desentralisasi-deregulasi, tambang timah, open access
Laporan penelitian diringkas dalam: pdf



Berikut foto-foto di lokasi pertambangan timah inkonvensional (TI) di atas lahan yang sebelumnya telah diekstraksi oleh perusahaan besar pertambangan. Danau-danau menganga, kerusakan ekologis dan sosial terpampang nyata di sini. Pulau Bangka…..


 
Foto 1. Foto oleh Ahmad Nashih Luthfi
Mencuci bijih timah, memisahkan dari unsur bebatuan yang lain. Dilakukan oleh buruh tambang di atas "sakan". Perhitungan bagi hasil (terima rupiah): buruh (1/3), alat-mesin-solar (1/3), bos (1/3). Jam kerja dari 7 pagi - 1 siang. Pendapatan: +/- 15 kg bijih timah/hari/font. Harga sekarang: 60 ribu/kg (harga yang dinyatakan Bos TI kepada buruh tambangnya). Selain orang lokal, di satuan kerja TI atau dikenal dengan sebutan 'front' TI, adalah mereka yang berasal dari luar daerah, umumnya dari Banten, Jawa Tengah, dan Jawa-Lampung/Jawa-Palembang.  

Foto 2. Foto oleh Ahmad Nashih Luthfi
Ibu dan anaknya yang sedang mengais bijih-bijih timah halus yang keluar dari sakan. Sehari yang dihasilkan oleh ibu dan anaknya ini mencapai setengah kg yang dikerjakannya dari siang sampai petang.

Foto 3. Foto oleh Ahmad Nashih Luthfi
Untuk inilah anak-anak meninggalkan sekolahnya, tanah-tanah bahkan halaman rumah digali, lautan disedot, lumpur-lumpru dialirkan, danau-danau menganga diciptakan. 
Timah, dengan harga berkisar 60-80 ribu dari TI. (pertengahan 2011)

Foto 4. Foto oleh Ahmad Nashih Luthfi
 Kolong-kolong. Kedalaman 1-2 meter masih tanah tailing bekas tambang PT Timah. Kedalaman selanjutnya masih tanah asli. Baru ditemukan sedimen timah di meter ke 6-7.  Jika terlalu bersemangat menggali dan menyemprot, tidak ayal lapisan atas mengancam runtuh. Kematian pekerja tambang terkena reruntuhan tanah bukanlah cerita baru.

Foto 5. Foto oleh Ahmad Nashih Luthfi
 Menyedot dan menyemprot, terus dan terus diekstraksi. 


Foto 6. Foto oleh Ahmad Nashih Luthfi
Direklamasi dan ditambang ulang. Panggung kontestasi kekuasaan dan rupiah


Bagaimana Bangka-Belitung melalui ingatan Andrea Hirata dalam Laskar Pelangi?

"Tuhan memberkahi Belitong dengan timah bukan agar kapal yang berlayar ke pulau itu tidak menyimpang ke Laut Cina Selatan, tetapi timah dialirkan-Nya ke sana untuk menjadi mercusuar bagi penduduk pulau itu sendiri. Adakah mereka telah semena...mena pada rezeki Tuhan sehingga nanti terlunta-lunta seperti di kala Tuhan menguji bangsa Lemuria? Kilau itu terus menyala sampai jauh malam. Eksploitasi timah besar-besaran secara nonstop diterangi ribuan lampu dengan energi jutaan kilo watt. 

Dan terberkatilah tanah yang dialiri timah karena ia seperti knautia yang dirubung beragam jenis lebah madu. Timah selalu mengikat material ikutan, yakni harta karun tak ternilai yang melimpah ruah: granit, zirkonium, silika, senotim, monazite, ilmenit, siderit, hematit, clay, emas, galena, tembaga, kaolin, kuarsa, dan topas …. Semuanya berlapislapis, meluap-luap, beribu-ribu ton di bawah rumah-rumah panggung kami. Kekayaan ini adalah … bahan dasar kaca berkualitas paling tinggi, bijih besi dan titanium yang bernas, … material terbaik untuk superkonduktor, timah kosong ilmenit yang digunakan laboratorium roket NASA sebagai materi antipanas ekstrem, zirkonium sebagai bahan dasar produk-produk tahan api, emas murni dan timah hitam yang amat mahal, bahkan kami memiliki sumber tenaga nuklir: uranium yang kaya raya. Semua ini sangat kontradiktif dengan kemiskinan turun temurun penduduk asli Melayu Belitong yang hidup berserakan di atasnya. Kami seperti sekawanan tikus yang paceklik di lumbung padi."

novel laskar pelangi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar